Rabu, 06 Mei 2026

Bagaimana

 Aku selalu bertanya-tanya. Bagaimana rasanya kematian ya, Pak?

Gak kusangka Bapak sudah mengalami itu. 

Minggu, 03 Mei 2026

Aku hanya ingin

Aku hanya ingin piknik Pak, atau karyawisata keluarga, atau sesederhana makan bersama di sebuah resto. Lengkap. Lengkap kita ber-enam.

Sabtu, 10 Mei 2025

Merawat Mimpi Mahasiswa UNY dalam Industri Kreatif Film


Di tengah proses menuntut ilmu dan pencarian jati diri, industri kreatif film muncul sebagai panggung bagi generasi muda untuk menuangkan imajinasi dan gagasan. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai lembaga pendidikan yang berkomitmen pada Tridharma Perguruan Tinggi, menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk mewujudkan mimpi mereka di industri ini. UNY tidak hanya mencetak sineas berbakat, namun turut memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan komunitas lokal untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis film.

Pendidikan di UNY menjadi fondasi bagi mahasiswa yang bercita-cita menembus industri ini. Salah satunya dengan berdirinya Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial, Hukum, dan Ilmu Politik 11 tahun silam. Melalui departemen ini, terbentuklah Laboratorium Komunikasi Media (LKM) yang aktif menggandeng mahasiswa memproduksi film-film pendek sebagai bagian dari program kerja rutin mereka.

Secara kolektif, mahasiswa UNY akan terlibat dalam proses pembuatan film, mulai dari tahap pra-produksi hingga pascaproduksi. Pembuatan naskah film disusun dan didiskusikan bersama. Kru yang terlibat pun berasal dari mahasiswa-mahasiswa lintas fakultas. Sementara itu, departemen memfasilitasi tempat, peralatan teknis serta bantuan dana bagi lancarnya produksi film.




Produksi film yang dilakukan selalu melibatkan aktor dan aktris lokal daerah Yogyakarta. Menghidupkan peran komunitas teater atau seniman yang profesional di bidangnya. LKM pernah mendapuk Freddy Rotterdam, Brilliana Arfira, hingga Heru Prasetyo untuk membintangi film-filmnya. Mereka adalah putra-putri daerah yang sudah menjejakkan kakinya di industri perfilman nasional. Membuka peluang kerja sama serta jalan menuju industri yang lebih besar di masa mendatang.

Film yang pernah diproduksi LKM beserta mahasiswa departemen ilmu komunikasi di antaranya, Denok (2021), Once Upon A Time in Indonesia (2022), Kembali Pulang (2023), The Weight She Choose (2025), dan judul lain yang tak bisa disebutkan satu-persatu. Selain film fiksi, departemen juga menghasilkan film dokumenter.  Film-film ini didistribusikan ke berbagai festival film baik nasional maupun internasional. Menorehkan penghargaan dan apresiasi bagi mahasiswa dan nama besar UNY sendiri.


Kru dan masyarakat dalam produksi film Once Upon a Time in Indonesia


Kontribusi Mahasiswa dalam Produksi Film terhadap Ekonomi Kreatif

Penciptaan Konten Inovatif dan Kreatif

Mahasiswa membawa perspektif segar dan ide-ide inovatif dalam pengembangan cerita dan visual yang dapat memperkaya khazanah konten film Indonesia. Produksi film pendek independen  oleh mahasiswa ini menciptakan diversifikasi konten yang memperluas pasar ekonomi kreatif.

Pengembangan Talenta dan Keahlian Industri

Produksi film menuntun mahasiswa untuk mengembangkan spesialisasi di berbagai aspek produksi film misalnya penyutradaraan, sinematografi, editing, dsb. Portofolio dari produksi film ini meningkatkan daya saing di dalam industri kerja.  

Pengembangan Pasar dan Distribusi

Distribusi karya dilakukan secara luas baik melalui platform digital atau festival film. Menjadi showcase bagi karya-karya terbaik dan titik temu dengan industri.

Manfaat bagi Masyarakat

Film yang diproduksi mengangkat isu-isu sosial di masyarakat, berfungsi sebagai sarana edukasi publik yang efektif dalam membangun kesadaran kolektif tentang permasalahan sosial. Kolaborasi masyarakat dalam produksi film partisipatif membuka keterlibatan langsung masyarakat dalam proses kreatif. Dari perspektif ekonomi, produksi film menciptakan stimulus ekonomi lokal dengan melibatkan berbagai sektor pendukung seperti penyediaan alat, properti, dan konsumsi, sementara lokasi shooting dapat mengenalkan penonton destinasi baru dan mendorong perkembangan pariwisata lokal.

Tak kalah penting, film produksi mahasiswa memperkaya pilihan hiburan berkualitas bagi masyarakat dengan menawarkan konten kreatif yang beragam dan bermuatan lokal. Festival dan screening film menjadi ruang interaksi sosial yang dinamis, tempat terjadinya pertukaran budaya dan dialog publik yang konstruktif, membangun kehidupan kultural yang lebih kaya dan beragam. Dengan demikian, aktivitas produksi film mahasiswa tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga menciptakan dampak sosial, budaya, dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Keberhasilan SineasHub: Wujud Sinergi UNY dalam Ekonomi Kreatif

Keberhasilan mahasiswa UNY melalui start-up SineasHub, yang meraih Juara 1 dalam Lomba Inovasi Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (LIKMI) 2023, menjadi bukti nyata peran strategis UNY dalam memajukan ekonomi kreatif berbasis film.

Kehadiran SineasHub menciptakan dampak berantai dalam ekosistem film dan masyarakat luas. Platform ini memperluas akses terhadap peluang berkarya, meningkatkan efisiensi produksi, dan membuka jalur distribusi alternatif bagi film-film independen.

Keberhasilan SineasHub menegaskan bahwa UNY, melalui Tridharma Perguruan Tinggi, mampu merawat mimpi mahasiswa sekaligus memperkaya ekosistem ekonomi kreatif di Indonesia.

Penutup

Aktifnya keterlibatan mahasiswa dalam produksi film diharapkan dapat meningkatkan ekonomi kreatif secara signifikan. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) telah menjadi cahaya bagi mahasiswa yang bercita-cita menghidupkan karya seni perfilman.

Pada peringatan Dies Natalis ke-61 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), semangat untuk merawat mimpi mahasiswa dalam industri kreatif film semakin terasa relevan dan menginspirasi. UNY diharapkan terus menjadi rumah bagi mimpi-mimpi besar itu. Menjadikan industri film sebagai wadah inovasi dan memperkuat perannya dalam memajukan bangsa.

Selamat Dies Natalis ke-61, UNY. Semoga terus bercahaya dalam mengantar generasi muda menuju masa depan yang gemilang.

Sumber : 

https://uny.ac.id/index.php/id/berita/sineashub-platform-film-media-production-karya-mahasiswa-uny

Senin, 21 September 2020

Pemanasan Global : Menilik dari Segi Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan

 

Pemanasan global seharusnya diangkat juga menjadi isu sosial dan ekonomi, bukan hanya sebatas menjadi isu lingkungan. Pemanasan global seharusnya bukan hanya ditinjau dari sebatas hasil emisi gas buangan, tetapi juga dilihat dari perspektif perbenturan antar kepentingan. Mengapa demikian?

Menurut Natural Resources Council, pemanasan global didefinisikan sebagai suatu proses meningkatnya suhu rata-rata di bumi akibat konsentrasi gas rumah kaca yang berlebih di atmosfer bumi. Beberapa contoh gas rumah kaca diantaranya karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida (NO2), metana (CH4), dan freon (SF6, HFC, CFC, dan PFC). Gas rumah kaca ini bersifat memerangkap panas sehingga bisa kita dibayangkan ketika gas rumah kaca menumpuk di atmosfer bumi, maka suhu rata-rata bumi akan meningkat. Hal inilah yang menjadikan terjadinya pemanasan global.

Namun, mengapa pemanasan global seharusnya diangkat juga menjadi isu sosial, politik, dan lingkungan? Bukankah ini hanya semata akibat dari gas buangan? Pemanasan global adalah masalah yang sangat kompleks. Berbagai macam bentrok kepentingan, mulai dari alasan sosial, ekonomi, sampai lingkungan, menyebabkan terjadinya adu gagasan. Perlawanan untuk “menolak pemanasan global” muncul dengan berbagai gagasan sebagai bentuk manifestasi dari upaya pengurangan dan pencegahan. Menamakan diri sebagai kelompok konservatif lingkungan yang mengkritisi kebijakan dengan fakta ilmiah dan dukungan bahwa keberadaan pemanasan global merupakan peristiwa yang merugikan.

Namun, perlu dipikirkan bagaimana nasib para pegawai dan buruh yang bekerja di perusahaan yang sebagian pendapatannya dari bahan bakar fosil? Sebut saja PT Pertamina yang pendapatannya sebesar 77,23 persen berasal dari penjualan minyak mentah, gas bumi, dan bbm atau PT Adaro Indonesia sebagai perusahaan batubara terbesar di Indonesia dengan pendapatan mencapai US$ 3,45 miliar pada tahun 2019. Selain itu, perlu dipikirkan juga bagaimana menanggulangi semakin masifnya penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil khususnya di Indonesia, padahal Indonesia merupakan pasar yang cukup potensial bagi perusahaan kendaraan berbahan bakar fosil ini. Astra Honda Motor misalnya, perusahaan pabrikan otomotif ini berhasil menguasai 74,6 persen pangsa pasar pada tahun 2018 sebagaimana yang dikutip dari  tempo.co dengan jumlah karyawan mencapai 25.817 orang (Maret 2020). Melihat masalah yang timbul dari segi sosial dan ekonomi, tentu pemanasan global bukan masalah yang sederhana.

Penyebab dari pemanasan global salah satunya berasal dari emisi karbon dioksida. Salah satu profesor Ilmu Bumi dari Universitas Stanford sekaligus Ketua Global Carbon Project, Rob Jackson mengeluarkan laporan terbaru soal emisi karbon dioksida yang mencapai jumlah tertingginya pada tahun 2019 yang mencapai 37 miliar ton sebagaimana yang dikutip dari CNN Indonesia. Tentu saja ini bukan angka yang kecil. Dengan penambahan emisi gas karbon dioksida yang semakin meningkat, tentu sebanding dengan kenaikan suhu rata-rata bumi. Perubahan iklim, kekeringan, masalah kesehatan, dan kepunahan makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi hanya beberapa contoh konsekuensi yang akan terjadi dan harus diwaspadai. Pemanasan global yang terjadi bukanlah sekedar dongeng belaka dari orang tua, tetapi inilah sekarang faktanya.

Akan tetapi, pernahkah terpikirkan oleh kita, mengapa hutan yang seharusnya sebagai kontrol dalam mengurangi gas efek rumah kaca beralih fungsi menjadi pemukiman, jalan, daerah industri, dan fasilitas lainnya? Bayangkan saja 1,47 juta hektare hutan hilang setiap tahunnya. Jawabnnya karena dunia semakin berkembang dengan berbagai macam tuntutan. Kebutuhan akan pembangunan menjadi tolak ukur berkembangnya suatu wilayah bahkan dalam lingkup negara. Pertumbuhan jumlah penduduk yang terjadi sebanding dengan kebutuhan tempat atau lahan yang diperlukan sebagai tempat tinggal, tetapi dibarengi dengan keterbatasan lahan pemukiman. Pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit sebagai bahan baku industri, membuka peluang usaha yang cukup menjanjikan bagi masyarakat sekitar sehingga berdampak pada peningkatan taraf ekonomi masyarakat. Kita tidak memungkiri bahwa kebutuhan akan barang produksi, seperti kendaraan, tekstil, semen, dan lain-lain, dapat terpenuhi dengan dilakukannya pembangunan kawasan industri. Padahal di Indonesia, sektor industri menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 3,12 persen dari proses produksi dan 9,63 persen dari penggunaan energi.

Pemanasan global merupakan permasalahan yang sangat kompleks. Bukan sekedar hanya permasalahan lingkungan, tetapi juga mencakup  masalah sosial, ekonomi, bahkan kepentingan. Dalam hal ini sangat diperlukan peran dan komitmen dari semua pihak, baik dari pemerintah maupun warganya dalam menanggulangi pemanasan global. Pemerintah sebagai pemangku kekuasaan harus bisa mengambil kebijakan yang paling menguntungkan, baik dari segi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Penggunaan dan pemberdayaan Energi Baru Terbarukan yang berwawasan lingkungan dengan emisi karbon yang tidak berlebihan dianggap menjadi solusi paling rasional yang dapat dilakukan. Perusahaan-perusahaan harus punya komitmen untuk mulai bergerak ke arah renewable energy. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan juga harus semakin dibangkitkan.  Bersama kita pasti bisa!!  

 

#TantanganMasaDepan #DuniaVUCA #OSKMITB2020 #TerangKembali

 

Sumber :

https://www.idntimes.com/science/discovery/nena-zakiah-1/fakta-penting-tentang-perubahan-iklim-global/4

https://news.detik.com/berita/d-4718212/tentang-pemanasan-global-dan-fakta-fakta-menariknya

https://lingkunganhidup.co/pengertian-pemanasan-global-penyebab-dampak/

https://bisnis.tempo.co/read/478703/ini-dia-delapan-industri-penyumbang-emisi-terbesar

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191205191747-199-454565/emisi-karbon-dioksida-global-capai-rekor-tertinggi-tahun-2019

https://otomotif.tempo.co/read/1166134/honda-kuasai-746-persen-pasar-motor-2018-yamaha-turun-tipis

https://www.cnbcindonesia.com/news/20190610160408-4-77398/raih-laba-berkat-kompensasi-pemerintah-bos-pertamina-biasa

https://investor.id/market-and-corporate/pendapatan-adaro-capai-us-345-miliar


Ditulis oleh : 202_Rifaldhi Wahyu Eko Nugroho

Jumat, 23 Juni 2017

after a long time :"v

Woiyoeee...after a long time akhirnya kita ketemu lagi :'v .
Good news nya , sekarang gue dah SMA :v  *prok prok prok ðŸŽ‰ semoga lancar-lancar aja ya lancar aja ya segala urusannya di SMA nanti. Amin

Tulisan kali ini cuma dikhususkan untuk pertemuan kita yang spesial ini #eakk ada banyak banget yang mau gue omongin tapi keknya lain waktu aja ya kita cerita-ceritanya..oke buat yang mau kenal gue atau mau stalking gue bisa kunjungi sosmed-sosmed gue :v dan gue berharap kalian bisa terus support me dalam berkarya lewat tulisan, video,maupun gambar. And....Makasih semuanya..mata ashita ^^

Kamis, 27 Oktober 2016

Teks Eksemplum NO TITLE

No Title


Bu Nina adalah seorang wanita paruh baya berusia 45 tahun. Dengan usianya yang sudah tidak muda lagi dan sudah menginjak kepala empat, dia sudah tidak dapat mengerjakan pekerjaan berat lagi karena tenaganya sudah tidak sekuat dulu. Karena itu, Bu Nina pun memutuskan bekerja sebagai penjual tempe mendoan. Hal ini sudah dilakukannya sejak suaminya meninggal akibat serangan jantung yang dialaminya setahun yang lalu. Bu Nina bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan kedua anaknya, yaituWawan dan Deni.  

          Seperti hari-hari biasanya, dia menjajakan barang dagangannya dari kampong satu ke kampung lain dengan berjalan kaki. Hari itu cuacanya sungguh panas sekali. Keringatnya terus mengucur deras dan membasahi wajah senjanya. Ketika itu, jam menunjukkan tepat pukul 12 siang. Tempe mendoannya lumayan laku terjual hari itu. Bu Nina pun memutuskan untuk melepas penat sejenak di sebuah gardu. Saat itu, dia melamun dan meratapi kehidupannya. Bu Nina harus menghidupi dan menyekolahkan kedua anaknya, belum lagi harus memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari, serta anjloknya nilai rupiah dan melambungnya harga kebutuhan pokok semakin membuat keadaan ekonomi keluarganya miskin.  

Di tengah lamunannya itu, tanpa sadar dia menemukan sebuah dompet yang tergeletak di pinggir jalan. Ia pun langsung memungutnya. Ketika dibuka, alangkah terkejutnya wanita paruh baya tersebut. Ternyata isinya adalah uang sebesar tujuh ratus ribu rupiah. Melihat uang itu, dia berpikir bias menggunakannya untuk membiayai sekolah kedua anaknya. Namun, terlintas juga di pikirannya bahwa uang itu bukanlah miliknya. Bu Nina memutuskan mengembalikan dompet kepada pemiliknya dengan petunjuk kartu nama di dalamnya. Dengan susah payah, dia mencari rumah pemilik dompet tersebut. Ketika sampai di depan rumahnya, dia pun mengetuk pintu rumah orang tersebut. Tidak berselang lama, pemilik rumah tersebut keluar. Dia pun menyampaikan maksud dan tujuannya ke pemilik rumah itu. Namun di luar dugaan, bagai air susu dibalas dengan air tuba pemilik rumah itu malah menuduh Bu Nina pencurinya. Pemilik rumah itu pun menghardik dan malah mengusirnya pergi. Bu Nina pergi dengan perasaan sedih dan kecewa.  

Setelah berjalan cukup jauh, di tengah kesedihannya Bu Nina bertemu dengan seorang laki-laki yang menghampirinya. Laki-laki itu tampak tidak asing baginya, tetapi dia lupa siapa orang itu. Laki-laki tersebut lalu mengajak Bu Nina untuk beristirahat di sebuah warung sambil berbincang-bincang.

“ Maaf Anda itu siapa ya?” tanya Bu Nina. Sambil tersenyum laki-laki itu menjawab, “ Begini, Bu. Saya ini Pak Iwan. Dulu saya sempat ditolong oleh suami ibu. Berkat bantuan suami ibulah saya bisa selama dari maut waktu itu”.
“Lalu apa maksud dan tujuan  Pak Iwan bertemu dengan saya?” tanya Bu Nina.     

“Tujuan saya bertemu  Bu Nina adalah untuk membalas kebaikan dari suami  ibu. Saya ingin membantu biaya sekolah anak-anak Bu Nina dan membuatkan rumah yang layak bagi Bu Nina dan keluarga”. 

Seketika itu, air mata Bu Nina bercucuran karena kebahagiaan yang tengah dirasakan. Bu Nina tidak menyangka bahwa kebaikan suaminya lah yang mengubah hidup keluarganya. Ia pun kemudian pulang ke rumah dengan kegembiraan yang sulit untuk ia lukiskan.

            Sebagai makhluk ciptaan Allah, hendaknya kita tidak berburuk sangka kepada  siapapun. Kita harus terus berpikir positif dan terus berbuat  kebaikan. Kebaikan yang diberikan oleh orang lain kepada kita,   harus kita kembalikan dengan berbuat kebaikan yang lebih besar. Dengan berbuat  kebaikan, dapat membuat orang lain berpikir positif terhadap diri kita.


dibuat oleh/karangan : Rifaldhi Wahyu Eko Nugroho (R.W.E.N)

Teks Eksemplum NO TITLE

No Title


Bu Nina adalah seorang wanita paruh baya berusia 45 tahun. Dengan usianya yang sudah tidak muda lagi dan sudah menginjak kepala empat, dia sudah tidak dapat mengerjakan pekerjaan berat lagi karena tenaganya sudah tidak sekuat dulu. Karena itu, Bu Nina pun memutuskan bekerja sebagai penjual tempe mendoan. Hal ini sudah dilakukannya sejak suaminya meninggal akibat serangan jantung yang dialaminya setahun yang lalu. Bu Nina bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan kedua anaknya, yaituWawan dan Deni.  

          Seperti hari-hari biasanya, dia menjajakan barang dagangannya dari kampong satu ke kampung lain dengan berjalan kaki. Hari itu cuacanya sungguh panas sekali. Keringatnya terus mengucur deras dan membasahi wajah senjanya. Ketika itu, jam menunjukkan tepat pukul 12 siang. Tempe mendoannya lumayan laku terjual hari itu. Bu Nina pun memutuskan untuk melepas penat sejenak di sebuah gardu. Saat itu, dia melamun dan meratapi kehidupannya. Bu Nina harus menghidupi dan menyekolahkan kedua anaknya, belum lagi harus memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari, serta anjloknya nilai rupiah dan melambungnya harga kebutuhan pokok semakin membuat keadaan ekonomi keluarganya miskin.  

Di tengah lamunannya itu, tanpa sadar dia menemukan sebuah dompet yang tergeletak di pinggir jalan. Ia pun langsung memungutnya. Ketika dibuka, alangkah terkejutnya wanita paruh baya tersebut. Ternyata isinya adalah uang sebesar tujuh ratus ribu rupiah. Melihat uang itu, dia berpikir bias menggunakannya untuk membiayai sekolah kedua anaknya. Namun, terlintas juga di pikirannya bahwa uang itu bukanlah miliknya. Bu Nina memutuskan mengembalikan dompet kepada pemiliknya dengan petunjuk kartu nama di dalamnya. Dengan susah payah, dia mencari rumah pemilik dompet tersebut. Ketika sampai di depan rumahnya, dia pun mengetuk pintu rumah orang tersebut. Tidak berselang lama, pemilik rumah tersebut keluar. Dia pun menyampaikan maksud dan tujuannya ke pemilik rumah itu. Namun di luar dugaan, bagai air susu dibalas dengan air tuba pemilik rumah itu malah menuduh Bu Nina pencurinya. Pemilik rumah itu pun menghardik dan malah mengusirnya pergi. Bu Nina pergi dengan perasaan sedih dan kecewa.  

Setelah berjalan cukup jauh, di tengah kesedihannya Bu Nina bertemu dengan seorang laki-laki yang menghampirinya. Laki-laki itu tampak tidak asing baginya, tetapi dia lupa siapa orang itu. Laki-laki tersebut lalu mengajak Bu Nina untuk beristirahat di sebuah warung sambil berbincang-bincang.

“ Maaf Anda itu siapa ya?” tanya Bu Nina. Sambil tersenyum laki-laki itu menjawab, “ Begini, Bu. Saya ini Pak Iwan. Dulu saya sempat ditolong oleh suami ibu. Berkat bantuan suami ibulah saya bisa selama dari maut waktu itu”.
“Lalu apa maksud dan tujuan  Pak Iwan bertemu dengan saya?” tanya Bu Nina.     

“Tujuan saya bertemu  Bu Nina adalah untuk membalas kebaikan dari suami  ibu. Saya ingin membantu biaya sekolah anak-anak Bu Nina dan membuatkan rumah yang layak bagi Bu Nina dan keluarga”. 

Seketika itu, air mata Bu Nina bercucuran karena kebahagiaan yang tengah dirasakan. Bu Nina tidak menyangka bahwa kebaikan suaminya lah yang mengubah hidup keluarganya. Ia pun kemudian pulang ke rumah dengan kegembiraan yang sulit untuk ia lukiskan.

            Sebagai makhluk ciptaan Allah, hendaknya kita tidak berburuk sangka kepada  siapapun. Kita harus terus berpikir positif dan terus berbuat  kebaikan. Kebaikan yang diberikan oleh orang lain kepada kita,   harus kita kembalikan dengan berbuat kebaikan yang lebih besar. Dengan berbuat  kebaikan, dapat membuat orang lain berpikir positif terhadap diri kita.


dibuat oleh/karangan : Rifaldhi Wahyu Eko Nugroho (R.W.E.N)

Senin, 15 Agustus 2016

Teks Ulasan Surat Kecil Untuk Tuhan



Surat Kecil Untuk Tuhan

Judul Novel                 : Surat Kecil Untuk Tuhan
Pegarang                      : Agnez Davonar
Penerbit                        : Inandra Published
Ukuran Novel               : 19 x 12 x 1,5 cm
Jumlah Halaman          : 232
Harga Novel                : Rp.40.000
Surat Kecil Untuk Tuhan merupakan sebuah novel Best Seller karya Agnes Davonar. Novel ini menceritakan kisah seorang gadis yang menderita penyakit Rhabdomyosarcoma (kanker jaringan lunak). Keke atau Gita Sesa Wanda Cantika adalah nama gadis itu.
 Awal mula kisah Keke yakni ketika ia divonis oleh dokter mengidap kanker ganas langka yang bersarang di bagian wajahnya. Kanker itu dapat membunuhnya dalam waktu singkat. Walaupun Keke terlihat buruk rupa, namun ia tetap berjuang untuk sembuh dan hidup normal kembali.
Ayah Keke turut berjuang agar putri kesayangannya itu terlepas dari kanker yang diderita. Perjuangan ayah Keke tersebut begitu mengharukan. Perjuangan Keke yang berakhir dengan kemoterapi membuahkan hasil. Ia dapat berkumpul dan berbahagia bersama keluarga serta sahabatnya.
Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. Keke ternyata kembali divonis menderita kanker yang sama. Hal itu tidak membuatnya sedih ataupun marah, ia justru bersyukur bahwa sebelumnya ia dapat bertahan lebih lama dari yang diperkirakan dokter. Mengetahui ajal yang akan segera tiba, Keke menulis sebuah surat. Surat yang berisi harapan seorang gadis kepada Tuhan. Akhirnya Keke menghembuskan nafas terakhirnya. Pesan Keke dan kisahnya selalu hidup hingga sekarang.
Novel ini didasarkan pada kisah nyata yang sanggup membuat pembaca hanyut ke dalam cerita, pembaca seolah-olah menjadi tokoh utama yang memerankan kisah tersebut. Gaya bahasanya sederhana sehingga mudah dipahami. Novel ini juga berisi banyak inspirasi dan motivasi bagi semua orang.
Meskipun novel ini memikat pembacanya, namun masih terdapat penulisan yang salah, kurang menarik , dan sulit dimengerti. Sastra yang disajikan dalam novel ini kurang tersampaikan ke pembaca karena sulit dimaknai atau menafsirkan maksudnya. Tapi tetap saja,  cerita yang tersaji menutupi segala kekurangan tersebut.
Kisah pada novel ini begitu menyentuh. Menyadarkan kita bahwa untuk hidup membutuhkan perjuangan yang teramat besar. Mengajarkan kita agar tidak mudah putus asa menjalani segala cobaan dari Yang Maha Kuasa. Novel ini juga memberikan paham bahwa hidup seorang manusia sangat berharga.