No Title
Bu Nina adalah seorang wanita paruh baya berusia 45 tahun. Dengan usianya yang sudah tidak muda lagi dan sudah menginjak kepala empat, dia sudah tidak dapat mengerjakan pekerjaan berat lagi karena tenaganya sudah tidak sekuat dulu. Karena itu, Bu Nina pun memutuskan bekerja sebagai penjual tempe mendoan. Hal ini sudah dilakukannya sejak suaminya meninggal akibat serangan jantung yang dialaminya setahun yang lalu. Bu Nina bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan kedua anaknya, yaituWawan dan Deni.
Seperti
hari-hari biasanya, dia menjajakan barang dagangannya dari kampong satu ke
kampung lain dengan berjalan kaki. Hari itu cuacanya sungguh panas sekali.
Keringatnya terus mengucur deras dan membasahi wajah senjanya. Ketika itu, jam
menunjukkan tepat pukul 12 siang. Tempe mendoannya lumayan laku terjual hari
itu. Bu Nina pun memutuskan untuk melepas penat sejenak di sebuah gardu. Saat
itu, dia melamun dan meratapi kehidupannya. Bu Nina harus menghidupi dan
menyekolahkan kedua anaknya, belum lagi harus memenuhi kebutuhan keluarganya
sehari-hari, serta anjloknya nilai rupiah dan melambungnya harga kebutuhan
pokok semakin membuat keadaan ekonomi keluarganya miskin.
Di tengah lamunannya
itu, tanpa sadar dia menemukan sebuah dompet yang tergeletak di pinggir jalan.
Ia pun langsung memungutnya. Ketika dibuka, alangkah terkejutnya wanita paruh
baya tersebut. Ternyata isinya adalah uang sebesar tujuh ratus ribu rupiah.
Melihat uang itu, dia berpikir bias menggunakannya untuk membiayai sekolah
kedua anaknya. Namun, terlintas juga di pikirannya bahwa uang itu bukanlah
miliknya. Bu Nina memutuskan mengembalikan dompet kepada pemiliknya dengan
petunjuk kartu nama di dalamnya. Dengan susah payah, dia mencari rumah pemilik
dompet tersebut. Ketika sampai di depan rumahnya, dia pun mengetuk pintu rumah
orang tersebut. Tidak berselang lama, pemilik rumah tersebut keluar. Dia pun
menyampaikan maksud dan tujuannya ke pemilik rumah itu. Namun di luar dugaan,
bagai air susu dibalas dengan air tuba pemilik rumah itu malah menuduh Bu Nina
pencurinya. Pemilik rumah itu pun menghardik dan malah mengusirnya pergi. Bu
Nina pergi dengan perasaan sedih dan kecewa.
Setelah berjalan cukup
jauh, di tengah kesedihannya Bu Nina bertemu dengan seorang laki-laki yang
menghampirinya. Laki-laki itu tampak tidak asing baginya, tetapi dia lupa siapa
orang itu. Laki-laki tersebut lalu mengajak Bu Nina untuk beristirahat di
sebuah warung sambil berbincang-bincang.
“ Maaf Anda itu siapa
ya?” tanya Bu Nina. Sambil tersenyum laki-laki itu menjawab, “ Begini, Bu. Saya
ini Pak Iwan. Dulu saya sempat ditolong oleh suami ibu. Berkat bantuan suami
ibulah saya bisa selama dari maut waktu itu”.
“Lalu apa maksud dan
tujuan Pak Iwan bertemu dengan saya?”
tanya Bu Nina.
“Tujuan saya
bertemu Bu Nina adalah untuk membalas
kebaikan dari suami ibu. Saya ingin
membantu biaya sekolah anak-anak Bu Nina dan membuatkan rumah yang layak bagi
Bu Nina dan keluarga”.
Seketika itu, air mata
Bu Nina bercucuran karena kebahagiaan yang tengah dirasakan. Bu Nina tidak
menyangka bahwa kebaikan suaminya lah yang mengubah hidup keluarganya. Ia pun
kemudian pulang ke rumah dengan kegembiraan yang sulit untuk ia lukiskan.
Sebagai makhluk ciptaan Allah, hendaknya kita tidak
berburuk sangka kepada siapapun. Kita
harus terus berpikir positif dan terus berbuat
kebaikan. Kebaikan yang diberikan oleh orang lain kepada kita, harus kita kembalikan dengan berbuat
kebaikan yang lebih besar. Dengan berbuat
kebaikan, dapat membuat orang lain berpikir positif terhadap diri kita.
dibuat oleh/karangan : Rifaldhi Wahyu Eko Nugroho (R.W.E.N)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar