Senin, 21 September 2020

Pemanasan Global : Menilik dari Segi Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan

 

Pemanasan global seharusnya diangkat juga menjadi isu sosial dan ekonomi, bukan hanya sebatas menjadi isu lingkungan. Pemanasan global seharusnya bukan hanya ditinjau dari sebatas hasil emisi gas buangan, tetapi juga dilihat dari perspektif perbenturan antar kepentingan. Mengapa demikian?

Menurut Natural Resources Council, pemanasan global didefinisikan sebagai suatu proses meningkatnya suhu rata-rata di bumi akibat konsentrasi gas rumah kaca yang berlebih di atmosfer bumi. Beberapa contoh gas rumah kaca diantaranya karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida (NO2), metana (CH4), dan freon (SF6, HFC, CFC, dan PFC). Gas rumah kaca ini bersifat memerangkap panas sehingga bisa kita dibayangkan ketika gas rumah kaca menumpuk di atmosfer bumi, maka suhu rata-rata bumi akan meningkat. Hal inilah yang menjadikan terjadinya pemanasan global.

Namun, mengapa pemanasan global seharusnya diangkat juga menjadi isu sosial, politik, dan lingkungan? Bukankah ini hanya semata akibat dari gas buangan? Pemanasan global adalah masalah yang sangat kompleks. Berbagai macam bentrok kepentingan, mulai dari alasan sosial, ekonomi, sampai lingkungan, menyebabkan terjadinya adu gagasan. Perlawanan untuk “menolak pemanasan global” muncul dengan berbagai gagasan sebagai bentuk manifestasi dari upaya pengurangan dan pencegahan. Menamakan diri sebagai kelompok konservatif lingkungan yang mengkritisi kebijakan dengan fakta ilmiah dan dukungan bahwa keberadaan pemanasan global merupakan peristiwa yang merugikan.

Namun, perlu dipikirkan bagaimana nasib para pegawai dan buruh yang bekerja di perusahaan yang sebagian pendapatannya dari bahan bakar fosil? Sebut saja PT Pertamina yang pendapatannya sebesar 77,23 persen berasal dari penjualan minyak mentah, gas bumi, dan bbm atau PT Adaro Indonesia sebagai perusahaan batubara terbesar di Indonesia dengan pendapatan mencapai US$ 3,45 miliar pada tahun 2019. Selain itu, perlu dipikirkan juga bagaimana menanggulangi semakin masifnya penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil khususnya di Indonesia, padahal Indonesia merupakan pasar yang cukup potensial bagi perusahaan kendaraan berbahan bakar fosil ini. Astra Honda Motor misalnya, perusahaan pabrikan otomotif ini berhasil menguasai 74,6 persen pangsa pasar pada tahun 2018 sebagaimana yang dikutip dari  tempo.co dengan jumlah karyawan mencapai 25.817 orang (Maret 2020). Melihat masalah yang timbul dari segi sosial dan ekonomi, tentu pemanasan global bukan masalah yang sederhana.

Penyebab dari pemanasan global salah satunya berasal dari emisi karbon dioksida. Salah satu profesor Ilmu Bumi dari Universitas Stanford sekaligus Ketua Global Carbon Project, Rob Jackson mengeluarkan laporan terbaru soal emisi karbon dioksida yang mencapai jumlah tertingginya pada tahun 2019 yang mencapai 37 miliar ton sebagaimana yang dikutip dari CNN Indonesia. Tentu saja ini bukan angka yang kecil. Dengan penambahan emisi gas karbon dioksida yang semakin meningkat, tentu sebanding dengan kenaikan suhu rata-rata bumi. Perubahan iklim, kekeringan, masalah kesehatan, dan kepunahan makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi hanya beberapa contoh konsekuensi yang akan terjadi dan harus diwaspadai. Pemanasan global yang terjadi bukanlah sekedar dongeng belaka dari orang tua, tetapi inilah sekarang faktanya.

Akan tetapi, pernahkah terpikirkan oleh kita, mengapa hutan yang seharusnya sebagai kontrol dalam mengurangi gas efek rumah kaca beralih fungsi menjadi pemukiman, jalan, daerah industri, dan fasilitas lainnya? Bayangkan saja 1,47 juta hektare hutan hilang setiap tahunnya. Jawabnnya karena dunia semakin berkembang dengan berbagai macam tuntutan. Kebutuhan akan pembangunan menjadi tolak ukur berkembangnya suatu wilayah bahkan dalam lingkup negara. Pertumbuhan jumlah penduduk yang terjadi sebanding dengan kebutuhan tempat atau lahan yang diperlukan sebagai tempat tinggal, tetapi dibarengi dengan keterbatasan lahan pemukiman. Pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit sebagai bahan baku industri, membuka peluang usaha yang cukup menjanjikan bagi masyarakat sekitar sehingga berdampak pada peningkatan taraf ekonomi masyarakat. Kita tidak memungkiri bahwa kebutuhan akan barang produksi, seperti kendaraan, tekstil, semen, dan lain-lain, dapat terpenuhi dengan dilakukannya pembangunan kawasan industri. Padahal di Indonesia, sektor industri menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 3,12 persen dari proses produksi dan 9,63 persen dari penggunaan energi.

Pemanasan global merupakan permasalahan yang sangat kompleks. Bukan sekedar hanya permasalahan lingkungan, tetapi juga mencakup  masalah sosial, ekonomi, bahkan kepentingan. Dalam hal ini sangat diperlukan peran dan komitmen dari semua pihak, baik dari pemerintah maupun warganya dalam menanggulangi pemanasan global. Pemerintah sebagai pemangku kekuasaan harus bisa mengambil kebijakan yang paling menguntungkan, baik dari segi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Penggunaan dan pemberdayaan Energi Baru Terbarukan yang berwawasan lingkungan dengan emisi karbon yang tidak berlebihan dianggap menjadi solusi paling rasional yang dapat dilakukan. Perusahaan-perusahaan harus punya komitmen untuk mulai bergerak ke arah renewable energy. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan juga harus semakin dibangkitkan.  Bersama kita pasti bisa!!  

 

#TantanganMasaDepan #DuniaVUCA #OSKMITB2020 #TerangKembali

 

Sumber :

https://www.idntimes.com/science/discovery/nena-zakiah-1/fakta-penting-tentang-perubahan-iklim-global/4

https://news.detik.com/berita/d-4718212/tentang-pemanasan-global-dan-fakta-fakta-menariknya

https://lingkunganhidup.co/pengertian-pemanasan-global-penyebab-dampak/

https://bisnis.tempo.co/read/478703/ini-dia-delapan-industri-penyumbang-emisi-terbesar

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191205191747-199-454565/emisi-karbon-dioksida-global-capai-rekor-tertinggi-tahun-2019

https://otomotif.tempo.co/read/1166134/honda-kuasai-746-persen-pasar-motor-2018-yamaha-turun-tipis

https://www.cnbcindonesia.com/news/20190610160408-4-77398/raih-laba-berkat-kompensasi-pemerintah-bos-pertamina-biasa

https://investor.id/market-and-corporate/pendapatan-adaro-capai-us-345-miliar


Ditulis oleh : 202_Rifaldhi Wahyu Eko Nugroho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar