Pada zaman dulu hiduplah sepasang suami istri yang dikaruniai dua anak
laki-laki. Mereka hidup sebagai seorang petani, yang hidupnya selaras
dengan ritme alam pedesaan. Setipa harinya, mereka beraktivitas di
pedesaan yang asri nan sejuk. Pagi diawali dengan mencangkul, bercocok
tanam. Siang, selepas di tengah teriknyasinar matahari, istirahat
sejenak. Sore menjelang, tiba saatnya untuk pulang ke rumah. Demikian
roda dinamika kehidupan setiap hari, nyaris tanpa perubahan. Akan tetapi
melihat kedua anaknya, mereka selalu bertengkar sepanjang hari.
Perilaku anak-anak yang hampir kita jumpai dalam setiap keluarga.
Karena mereka berdua selalu terlibat dalam pertengkaran, suatu ketika,
kesabaran sang ayah memuncak dan melebihi batas. Akhirnya anak yang
kedua terkena pukulan tangan ayah, mengakibatkan bibirnya robek
(“sumbing”). Hingga kini kedua anak tersebut diabadikan sebagai nama
gunung Si(ndoro) (yang sekarang Gunung Sindoro) dan Si(sumbing)(sekarang
Gunung Sumbing). Ndoro adalah julukan kepada seseorang karena sikap
santun, bijaksana dan selalu melindungi. Adapun sumbing diberikan kepada
anak yang nomor dua karena tingkahnya. Gunung sumbing bila dilihat dari
sisi timur atau barat akan terlihat bagian tengah robek, melengkung ke
bawah.
#Jateng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar